Salah satu isu tinggal di Indonesia khususnya Jakarta bagi kaum perempuan adalah KEAMANAN! Kasus pelecehan yang terjadi hanya dianggap remeh oleh masyarakat dan sayangnya perempuanlah yang selalu menjadi korban. Harap dicatat bahwa pelecehan itu tidak melulu yang melibatkan kontak fisik. Sapuan mata, komentar maupun gestur kampungan sudah dianggap pelecehan.
Ketika kasus pelecehan terjadi sudah dapat dipastikan bahwa masyarakat akan menilai bahwa kesalahan terletak pada si korban. “Salah sendiri memakai pakaian yang memperlihatkan aurat” , atau “Perempuan baik-baik mana yang pulang malam/pagi”. LAME! Belum selesai sampai di situ, masyarakat akan mempertanyakan “moral” si korban, atau perempuan manapun yang terbiasa memakai busana yang “dianggap tidak pantas”.
Terus kenapa para pria di negara lain bisa mengendalikan diri ketika melihat aurat ya? Walaupun tidak absolut, tapi saya perhatikan mereka menjaga sopan santun bahkan bersikap tidak peduli ketika di stasiun kereta terdapat banyak perempuan dengan pakaian minim. Kesimpulan sementara saya, mereka berpendidikan, menghargai HAM dan mengerti definisi moralitas. Bukan sekedar menghapalkan, tapi benar-benar mengerti implikasinya.
Pernah suatu ketika ketika sepulang kerja, di dekat kosan, ada lelaki yang melecehkan dengan perkataan kampungya (yang sayangnya dianggap wajar dan dimaklumkan oleh sebagian besar masyarakat), “Cewek…cewek!” Tentu saja lama-lama kuping saya panas mendengarnya. Saya langsung berhenti di pelataran ruko TKP, dan sengaja menantang mata si pria “wajar” tersebut dan bertanya lantang “Apa?” Sudah dapat dipastikan dia cengar-cengir senang karena memang itu tujuannya: MENDAPATKAN PERHATIAN. Saya sangat sadar bahwa lelaki seperti ini modus operandinya adalah terus melecahkan dan akan tersenyum penuh kemenangan (kepuasan pribadi) karena berhasil membuat seorang perempuan menjadi tidak nyaman.
Tapi MAAF YA MAS, dugaan Anda meleset. Saya tahu bahwa Anda berharap setelah mengatakan “Apa?” saya akan langsung pergi ketakutan. Memang benar sebenarnya saya sangat deg-degan, tapi dalam hati saya terus berkata Jangan pergi, nanti dia merasa menang. Jangan pergi, nanti dia merasa menang. Tapi mudah-mudahan dia tidak keluar, kalau dia keluar mati gue (keluar= keluar ke parkiran tempat saya berada, si pria brengsek itu berdiri di teras rukonya). Akhirnya si brengsek tersebut mengalah, dia tidak menyangka bahwa saya memilih berdiri disitu menantangnya. Apalagi ketika mulai ada orang lain yang datang, akhirnya dia malu sendiri dan mulai mengalihkan pandangannya dari saya. Dari situ saya tahu bahwa si jalang itu sebenarnya takut. 1-0 asshole!
Kejadian lain yang lebih melecehkan adalah saat saya dan 3 teman kerja terpaksa pulang pagi karena karaoke. Sebenarnya kami tidak bermaksud pulang pagi, hanya karena tingkat stress oleh karena pekerjaan dll sedang memuncak, maka kami memperpanjang jam katarsis dengan cara bernyanyi, kegiatan yang sehat bukan?
Akhirnya pukul 1 pagi kami keluar dan mencari angkot di tempat yang terang. Tiba-tiba ada van yang mendekat perlahan, perasaan saya langsung tidak enak. Benar saja, tiba-tiba kaca mobil diturunkan dan terlihatkan 2 lelaki setengah baya berwajah Timur tengah menyapu kami dengan pandangan najisnya. Langsung saja jari tengah saya acungkan ke mukanya, dan ternyata salah satu teman juga melakukan hal yang sama. Mobil tersebut langsung pergi karena mereka sadar kami bukan perempuan yang mereka mau.
Jadi pihak mana yang dianggap tidak bermoral? Perempuan? Karena “menggoda” pria? Tapi saya dan teman-teman dalam kedua insiden tersebut hanya memperlihatkan aurat kami sebagai berikut: muka, leher dan tangan, alias kami berbusana santun. Kami juga tidak menggoda pihak pria. Kalaupun pulang pagi, itu juga hak kami, toh kami tidak melanggar hukum.
Jadi apakah moralitas masih dianggap berbanding lurus dengan kain penutup? Para TKW di Arab dengan busana tertutup pun masih menjadi korban pelampiasan lelaki “terhormat”. Lelaki “terhormat” dalam dua insiden tadi juga berbaju tertutup. Kalaupun mereka bertelanjang dada, kami juga yakin tidak akan melecehkan mereka. Kami terlalu terhormat untuk melakukan tindak pelecehan.
Kalau di beberapa negara lain, apabila terjadi kasus pelecehan, maka aparat negara akan bertindak. Sayangnya kalau disini, perempuan lagi yang kena. Ahirnya solusinya adalah pembatasan hak pada perempuan: jangan memakai pakaian mini (ini dipermasalahkan oleh negara dengan pria yang tidak tahan melihat kulit), jangan berjalan sendirian, jangan ini, jangan itu. Ujung-ujungnya perempuan yang harus waspada, bukannya si amoral yang ditindak.
Salah satu solusi saya yang tinggal di pusat kota Jakarta adalah menerapkan metode “cengar cengir mari Pak”. Saya sadar saya membutuhkan perlindungan dari penduduk sekitar tempat saya tinggal. Apalagi karena dulu sebagai movies goer, saya sering pulang pagi dari menonton bioskop bersama teman kosan. Yang saya lakukan adalah memperkenalkan diri sebagai penduduk kampung tersebut. Caranya adalah dengan selalu tersenyum ketika saya lewat dan menyapa “Mari Pak”. Saya sudah dikenal oleh Pak bakso, pak soto mie, pak sate, pak bakpao, pak & mas pecel lele, bapak-bapak ojek, bapak-ibu koran, pak tambal ban, pak sewa pick up, mas bakmi, mas pigura, om kosan sebelah dll. Jadi saya tidak akan diganggu oleh mereka ketika pulang malam. Tadinya pak ojek agak mengganggu, tapi karena saya balas dengan respon santun, akhirnya mereka juga ikut santun. Aapalagi setelah mereka tahu saya tinggal di kos pak RT, hohohoho indahnya!
Mereka adalah lapisan yang membuat saya merasa terlindungi ketika berjalan sendiri. Saya sadar bahwa solusi saya itu kecil. Tapi selama belum ada perlindungan hukum untuk perempuan, maka kita sendiri yang harus cerdas kan? Mari pak, om, mas…senyum!

It doesn't take an army to protect women. It only takes YOU!